Penyebab stroke
Pada kasus stroke usia remaja, faktor genetika
(keturunan) merupakan penyebab utama terjadinya stroke. Sering ditemui kasus
stroke yang disebabkan oleh pembuluh darah yang rapuh dan mudah pecah, atau
kelainan sistem darah seperti penyakit hemofilia dan thalassemia
yang diturunkan oleh orang tua penderita. Sedangkan jika ada anggota keluarga
yang menderita diabetes (penyakit kencing manis), hipertensi (tekanan darah
tinggi), dan penyakit jantung, kemungkinan terkena stroke menjadi lebih besar
pada anggota keluarga lainnya.
Penyebab serangan stroke lainnya adalah makanan dengan
kadar kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein) yang sangat tinggi.
Koleserol jahat ini banyak terdapat pada junk food, atau makanan cepat
saji. Selain itu, penyebab terjadinya serangan stroke lainnya adalah kebiasaan
malas berolah raga dan bergerak, banyak minum alkohol, merokok, penggunaan
narkotika dan zat adiktif, waktu istirahat yang sangat kurang, serta stress yang
berkepanjangan. Pecahnya pembuluh darah juga sering diakibatkan karena penyakit
tekanan darah tinggi (hipertensi).
Gejala terjadinya serangan stroke
Gejala awal stroke umumnya pusing, kepala serasa berputar
(seperti penyakit vertigo), kemudian disusul dengan gangguan berbicara dan
menggerakkan otot mulut. Gejala lainnya adalah tergangguanya sensor perasa
(tidak bisa merasakan apapun , seperti dicubit atau ditusuk jarum) dan tubuh
terasa lumpuh sebelah, serta tidak adanya gerakan refleks. Sering juga terjadi
buta mendadak atau kaburnya pandangan (karena suplai darah dan oksigen ke mata
berkurang drastis), terganggunya sistem rasa di mulut dan otot-otot mulut
(sehingga sering dijumpai wajah penderita menjadi mencong), lumpuhnya otot-otot
tubuh yang lain, dan terganggunya sistem memory dan emosi. Sering dijumpai
penderita tidak dapat menghentikan tangisnya karena lumpuhnya kontrol otak pada
sistem emosinya. Hal itu membuat penderita stroke berlaku seperti penderita
penyakit kejiwaan, padahal bukan. Hal-hal seperti ini yang perlu dimengerti oleh
keluarga penderita.
Proses penyembuhan
Ada 2 proses penyembuhan utama yang harus dijalani
penderita. Pertama adalah penyembuhan dengan obat-obatan di rumah sakit. Kontrol
yang ketat harus dilakukan untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat dapat
diturunkan dan tidak bertambah naik. Selain itu, penderita juga dilarang makan
makanan yang dapat memicu terjadinya serangan stroke seperti junk food
dan garam (dapat memicu hipertensi).
Proses penyembuhan kedua adalah fisiotherapy,
yaitu latihan otot-otot untuk mengembalikan fungsi otot dan fungsi komunikasi
agar mendekati kondisi semula. Fisiotherapi dilakukan bersama instruktur
fisiotherapi, dan pasien harus taat pada latihan yang dilakukan. Jika
fisiotherapi ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh, maka dapat terjadi
kelumpuhan permanen pada anggota tubuh yang pernah mengalami kelumpuhan.
Kesembuhan pada penderita stroke sangat bervariasi. Ada
yang bisa sembuh sempurna (100 %), ada pula yang cuma 50 % saja. Kesembuhan ini
tergantung dari parah atau tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh penderita,
ketaatan penderita dalam menjalani proses penyembuhan, ketekunan dan semangat
penderita untuk sembuh, serta dukungan dan pengertian dari seluruh anggota
keluarga penderita. Seringkali ditemui bahwa penderita stroke dapat pulih
kembali, tetapi menderita depresi hebat karena keluarga mereka tidak mau
mengerti dan merasa sangat terganggu dengan penyakit yang dideritanya (seperti
sikap tidak menerima keadaan penderita, perlakuan kasar karena harus
membersihkan kotoran penderita, menyerahkan penderita kepada suster yang juga
memperlakukan penderita dengan kasar, dan sebagainya). Hal ini yang harus
dihindarkan jika ada anggota keluarga yang menderita serangan stroke.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar